SELAMAT DATANG

"Terima kasih telah meluangkan waktu untuk mengunjungi blog ini dan mohon maaf bila semua isi di dalamnya tidak sesuai dengan harapan anda "

Click one of the Flags to change language

EnglishFrenchGermanSpainItalianDutch RussianPortugueseJapaneseKoreanArabicChinese Simplified

Senin, 26 September 2011

Makalah Akhlak dan Ilmu Akhlak

BAB 1
PENDAHULUAN

Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang penting. Sebagai individu maupun masyarakat dan bangsa. Sebab jatuh bangunnya suatu masyarakat tergantung kepada bagaimana akhlaknya.
Yang dimaksud dengan akhlak dalam pemakaian sehari-hari adalah akhlak yang baik (al-akhlakul karimah) umpamanya dikatakan orang itu berakhlak artinya orang itu mempunyai akhlak yang baik dan orang tidak berakhlak artinya orang itu tidak mempunyai akhlak yang baik atau buruk akhlaknya.
Kajayaan seseorang terletak pada akhlak yang baik dan kejatuhan nasib seseorang, masyarakat, dan bangsa itu dikatakan tidak baik dikarenakan kehilangan akhlak baiknya atau kejatuhan akhlak. Akhlak bukan hanya sekedar sopan santun, tata karma yang bersifat lahirnya dan seseorang terhadap orang lain melainkan lebih dari itu.
Manusia terdiri dari unsur jasmaniah dan rohaniah. Di dalam kehidupannya, ada masalah material (lahiriah), spiritual (batiniah), dan akhlak. Apabila seseorang tidak mempunyai rohani, maka orang itu mati. Sebaliknya, apabila seseorang tidak mempunyai jasmani, maka tidak dapat disebut manusia.
Akhlak yang mulia dalam agama islam adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban, menjauhi segala larangan-larangan, memberikan hak kepada Allah SWT, makhluk sesame manusia dan alam sekitar dengan sebaik-baiknya.


BAB II
PEMBAHASAN

1.        Tinjauan Umum Mengenai Ilmu Akhlak
A.  Pengertian Ilmu Akhlak dan Akhlak
Dua pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami ilmu akhlak yaitu: pendekatan linguistik (kebahasaan) dan pendekatan terminologik (peristilahan). Dari segi kebahasaan, akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu “akhlaqa”, yang berarti as-sajiyah (perangai), ath-thabi’ah (kelakuan, watak dasar), al-adat (kebiasaan, kelaziman), al-maru’ah (peradaban yang baik) dan al-din (agama). Kata akhlaq jamak dari kata khuluq atau khuluqun.
Sedangkan dilihat dari suatu istilah (terminologi), para ahli berbeda pendadat. Namun intinya sama yaitu tentang perilaku manusia. Pendapat-pendapat para ahli tersebut dihimpun sebagai berikut :
1.         Ibrahim Anis mengatakan akhlak ialah ilmu yang objeknya membahas nilai-nilai yang berkaitan  dengan perbuatan manusia, dapat disifatkan dengan baik dan buruknya.
2.         Hamzah Ya’qup mengemukakan pengertian akhlak sebagai berikut:
a.    Akhlak ialah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, antara terpuji dan tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin.
b.    Akhlak ialah ilmu pengetahuan yang memberikan pengertian tentang baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuan mereka yang terakhir dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka.
3.         Imam al-Ghozali mengatakan akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan bermacam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
4.         Ahmad Amin mengatakan bahwa akhlak ialah kebiasaan baik dan buruk
5.         Ibn Miskawaih mendefinisikan akhlak sebagai suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia, yang berbuat dengan mudah, tanpa melalui proses pemikiran atau pertimbangan (kebiasaan sehari-hari).
6.         Abdul Karim Zaidan (Ushul Da’wah) mengatakan akhlak ialah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatannya, baik atau buruk, kemudian melakukan atau meninggalkan.
7.         Abdul Hamid mengatakan akhlak ialah ilmu tentang keutamaan yang harus dilakukan dengan cara mengikutinya sehingga jiwanya terisi dengan kebaikan, dan tentang keburukan yang harus dihindarinya sehingga jiwanya kosong (bersih) dari segala bentuk keburukan.
8.         Farid Ma’ruf mengatakan akhlak ialah kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan dengan mudah karena kebiasaan, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu.
9.         M. Abdullah Daras mengatakan akhlak sebagai suatu kekuatan dalam kehendak yang mantab, kekuatan berkombinasi membawa kecenderungan para pemilihan pihak yang benar (akhlak baik) atau pihak yang jahat (akhlak buruk).
10.     Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia ( Karangan W. Js. Purwodarminto) mengartikan akhlak sebagai budi pekerti, watak, tabiat. Kata akhlak kendati berasal dari bahasa arab, namun kata seperti itu tidak dapat ditemukan dalam Al-Qur’an yang ditemukan hanyalah bentuk tunggal kata tersebut yaitu khuluq.
11.     Soegardo Poerbakawatja mengatakan akhlak ialah budi pekerti, watak kesusilaan dan kelakuan baik yang merupakan akibat dan sikap jiwa yang benar terhadap khaliknya dan terhadap manusia.
12.     Al-Qurthuby mengatakan akhlak ialah suatu perbuatan manusia yang bersumber dari adab-kesopanannya karena perbuatan termasuk bagian dari kejadiannya
13.     Muhammad bin I’laan Ash Shodieqy mengartiakn akhlak adalah suatu pembawaan dalam diri manusia, yang dapat menimbulkan perbuatan baik, dengan cara yang mudah ( tanpa dorongan dari orang lain ).
Sedangkan para ahli mendefinisikan ilmu akhlak sebagai berikut:
1.         Ibrahim Anis mengemukakan bahwa ilmu akhlak ialah ilmu yang obyek pembahasannya adalah tentang nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatan manusia yang dapat di sifatkan dengan baik dan buruk.
2.         Hamzah Yaqub mengemukakan pengertian ilmu akhlak dengan ‎mengatakannya sebagai berikut: "Adapun pengertian sepanjang terminologi yang ‎dikemukan oleh ulama akhlak antara lain:
a)      Ilmu akhlak adalah ilmu yang ‎menentukan batas antara baik dan buruk, antara yang terpuji dan yang tercela, tentang ‎perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin; dan
b)      Ilmu akhlak adalah ilmu ‎pengetahuan yang memberikan pengertian tentang baik dan buruk, ilmu yang ‎mengajarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuan mereka yang terakhir dari ‎seluruh usaha dan pekerjaan mereka.
3.         Ahmad Amin mengartikan ilmu akhlak sebagai ilmu yang menjelaskan arti baik buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh sebagian menusia kepada lainya, menyatakan tujuan yang harus dituju manusia didalam perbuatan mereka dan menunjukan jalan bagaimana melakukan tindakan yang harus diperbuat?
4.         Mansyur Ali Rajab mengemukakan bahwa ilmu akhlak ialah ilmu yang membahas dorongan dan tujuan, kebaikan  dan keburukan, kebenaran dan kewajiban, juga membahas suara hati, kebahagiaan, contoh yang mulia dan cara memperolehnya.
5.         Butros Al Bustami mendefinisikan ilmu akhlak sebagai ilmu yang membahas tentang keutamaan dan cara-cara memperolehnya agar manusia dapat memakainya dan membahas tentang keburukan serta cara menjaganya agar manusia mampu menghindarinya?
6.         Abdul Hamid mengemukakan bahwa ilmu akhlak ialah Ilmu tentang keutamaan-keutamaan dan cara mengikutinya hingga jiwa terisi dengannya dan tentang keburukan dan cara menghindarinya hingga jiwa kosong dari padanya.
7.         Rachmat Djatnika mengemukakan bahwa Ilmu akhlak mengandung hal-hal sebagai berikut :
a)        Menjelaskan pengertian “ baik dan buruk “ .
b)        Menerangkan apa yang harus dilakukan oleh seseorang atau sebagian manusia terhadap sebagian yang lainnya.
c)        Menjelaskan tujuan yang sepatutnya dicapai oleh manusia dengan perbuatan-perbuatan manusia itu.
d)        Menerangkan jalan yang harus dilalui untuk berbuat
8.         Barmawie Umary mengemukakan bahwa ilmu akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, terpuji dan tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia, lahir dan batin.
9.         Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan ilmu akhlak ialah ilmu yang membicarakan masalah-masalah yang berhubungan dengan pengertian baik dan buruk, arti dan tujuan hidup manusia, hal-hal yang harus dikerjakan atau ditinggalkan oleh manusia agar ia dapat mencapai tujuan tersebut dan memiliki akhlak yang mulia serta terhindar dari akhlak yang tercela.

B.       Objek dan Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Akhlak
Pokok-pokok masalah yang dibahas dalam ilmu akhlak adalah intinya perbuatan manusia. Perbuatan tersebut selanjutnya ditentukan kriterianya apakah baik atau buruk.
Ahmad Amin menyatakan: “Bahwa obyek ilmu akhlak adalah membahas perbuatan manusia yang selanjutnya perbuatan tersebut ditentukan baik atau buruk”. Muhammad Ghazali menyebutkan bahwa kawasan pembahasan ilmu akhlak adalh seluruh aspek kehidupan manusia, baik sebagai individu ataupun kelompok.
Muhammad Abdullah dalam bukunya Dustul al-Akhlak, al-Islam membagi ruang lingkup menjadi 5 bagian, antara lain:
1.    Akhlak pribadi (al-akhlaq al-fardiyah)
2.    Akhlak berkeluarga (al-akhlaq al-usariyah)
3.    Akhlak bermasyarakat (al- akhlaq al-ijtima’iyyah)
4.    Akhlaq bernegara
5.    Akhlaq beragama (al-akhlaq ad-diniyyah)

Ø Istilah-istilah lain dari akhlak
1.    Etika
Dari segi etimologi, etika berasal dari bahasa yunani, yaitu “ethos” yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan Sedangkan yang dimaksud kebiasaan adalah kegiatan yang dilakukan berulang-ulang.
Selain akhlak kita juga lazim menggunakan istilaah etika. Etika merupakan sinonim dari akhlak Sedangkan etika menurut kriminology adalah ilmu yang menyelidiki  mana yang baik dan mana yang buruk dan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal fikiran.
Tujuan etika dalam pandangan filsafat ialah mendapatkan ide yang sama bagi seluruh manusia disetiap waktu dan tempat tentang ukuran tingkah laku yang baik dan buruk sejauh yang dapat diketahui oleh akal dan fikiran manusia.
2.    Moral
Moral berasal dari bahasa latin yakni “mores” kata jamak dari mos yang berarti adat kebiasaan. Sedangkan dalam bahasa Indonesia moral diartikan susila. Sedangkan moral adalah sesuai dengan ide-ide yang umum diterima tentang tindakan manusia, mana yang baik dan mana yang buruk.
3.    Norma
Norma berasal dari bahasa latin yakni “norma” yang berarti penyikut atau siku-siku, suatu alat perkakas yang digunakan oleh tukag kayu. Dari sinilah  kita dapat mengartikan norma sebagai pedoman, ukuran, aturan atau kebiasaan. Jadi norma ialah sesuatu yang dipakai untuk mengatur sesuatu yang lain. Dengan norma ini orang dapat menilai kebaikan atau keburukan suatu perbuatan.
4.    Nilai
Dalam membahas nilai ini bisanya membahas tentang pertanyaan mana yang baik dan mana yang tidak baik dan bagaimana seseorang untuk dapat berbuat baik serta tujuan yang memiliki nilai.
Ø Faedah Mempelajari Ilmu Akhlak dan Akhlak
Dilihat dari segi tujuan akhir setiap ibadah adalah pembinaan takwa. Bertakwa mengandung arti melaksanakan segala perintah agama dan meninggalkan segala larangan agama. Ini berarti menjauhi perbuatan-perbuatan jahat dan melakukan perbuatan-perbuatan baik (akhlaqul karimah)

Ø Ruang Lingkup Pembahasan Akhlak
1.    Perasaan akhlak
Menurut John Locke suara hati itu berbeda-beda menurut beberapa peraturan, antara lain:
a.    Specification (tertentu) yaitu berpandangan sempit
b.    Spiritual (situasi spiritual)
c.    Universal (sesuatu yang umum) ini sifatnya sudah mendunia
2.    Pendorong akhlak
Atas dasar dorongan dalam arti tujuan yang ingin dicapai itu, Mansur Ali Rajab membagi pendorong akhlak menjadi 2 macam, yaitu:
a.    Pendorong dalam bentuk kekuatan untuk timbulnya perbuatan ba’its dhaiy atau ba’its ikhtiari
b.    Pendorong dalam bentuk kekuatan, yaitu pelakunya mempunyai sasaran atau tujuan tertentu
3.    Ukuran akhlak (alat ukur atau standarisasi menyeluruh)

4.    Tujuan akhlak
Tujuan ialah suatu yang dikehendaki, baik individu maupun kelompok. Tujuan akhlak yang dimaksud ialah melakukan sesuatu atau tidak melakukannya, yang dikenal  dengan istilah al-Ghayah, dalam bahasa Inggris disebut the ligin goal, dlam bahasa Indonesia lazim disebut dengan ketinggian akhlak.
Mustafa Zahri, mengatakan bahwa tujuan perbaikan akhlak itu adalah untuk membersihkan kalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah sehingga hati menjadi suci dan bersih, bagaikan cermin yang dapat menerima nur cahaya Tuhan.

5.    Pokok-pokok ilmu akhlak
Pokok-pokok masalah yang dibahas dalam ilmu akhlak adalah intinya perbuatan manusia. Perbuatan tersebut selanjutnya ditentukan kriterianya apakah baik atau buruk. Ahmad Amin menyatakan: “Bahwa obyek ilmu akhlak adalah membahas perbuatan manusia yang selanjutnya perbuatan tersebut ditentukan baik atau buruk”
Al Ghozali menyatakan bahwa pokok-pokok pembahasan ilmu akhlak meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, baik sebagai individu (perseorangan) maupun kelompok (masyarakat).
J.H. Muirhead menyebutkan bahwa pokok pembahasan (subject matter) ilmu akhlak ialah penyelidikan tentang tingkah laku dan sifat manusia.



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dari definisi tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah tabiat, sifat seseorang atau perbuatan manusia yang bersumber dari dorongan jiwanya yang sudah terlatih, sehingga dalam jiwa tersebut benar-benar sudah melekat sifat-sifat yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikirkan serta di angan-angan lagi. Maka dari itu  gerakan refleks, denyut jantung dan kedipan mata itu tidak dapat disebut sebagai akhlak, karena gerakan tersebut tidak diperintah oleh unsur kejiwaan. Sebab akhlak merupakan ” kehendak ” dan ” kebiasaan ” manusia yang menimbulkan kekuatan-kekuatan yang sangat besar untuk melakukan sesuatu.
Kehendak merupakan keinginan yang ada pada diri manusia setelah dibimbing, dan kebiasaan adalah perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah untuk melakukannya. Oleh karena itu faktor kehendak atau kemauan memegang peranan yang sangat penting sebab dengan adanya kehendak tersebut telah menunjukkan adanya unsur ikhtiar dan kebebasan, yang karenanya dapat disebut dengan ” akhlak ”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar